belajar dari dandelion, bahwa rasa itu dijaga dengan baik-baik. sampai tumbuh menjadi cantik dan mengagumkan yang memberi keyakinan pada orang-orang yang melihatnya. walau nantinya akan tertiup angin, tetap jaga rasa itu dengan baik-baik. angin itu yang akan menentukan, rasa itu berlabuh kemana dan untuk siapa. :’)
(Source: orionfalls)
Wanita tahu kapan harus menangis dan di depan siapa.
Dan saat dia tak lagi tahu,
kau sungguh tak dapat menebak sedalam apa kesedihannya.- Tia Setiawati Priatna
(Source: prayandtry)
Tadi pagi ada seorang datang ke rumah, menawarkan kompor elektrik, saya tanya ini itu, ternyata dia seorang Engineer, seorang Insinyur elektronika dari sebuah Universitas negeri ternama. Beberapa minggu lalu juga disebuah mall ada seorang dokter yang memasarkan peralatan kesehatan baru dengan memeriksa darah dan membagikan brosur.
Saya lihat di televisi, pelawak-pelawak yang beradegan konyol, blo’on dan cuwakwa’an, gebuk-gebukan gabus naik mobil yang harganya diatas 600 juta. Bandrol harga atas profesinya milyaran rupiah.
Saya heran dengan masyarakat kita yang sekarang, orang yang tekun belajar dan benar-benar menggunakan otaknya dihargai hanya 500 ribu sampai dengan 2 juta perak saja, tapi orang yang berani konyol bisa berharga milyaran. Bagi saya ini sudah tak lucu lagi, masyarakat kita sedang sakit, ketika ketekunan, kejujuran dan kecerdasan sudah tak dihargai maka ada yang tak beres di dalam masyarakat ini.
Tak heran yang muncul di televisi adalah Intelektual kelas rendahan, politisi bermulut comberan dan gagasan hiburan yang super konyol tak mencerdaskan. Dahulu kita masih menikmati lawakan-lawakan cerdas Warkop DKI liwat radio-radio, mampu menerjemahkan folklore menjadi sebuah kelucuan yang dimengerti banyak orang, ada Bing Slamet ada Kang Ibing, tapi sekarang lawakan kita hanya gebuk-gebukan gabus dan mengata-ngatai fisik orang. Rupanya revolusi tidak harus dimulai dari penggulingan pemerintahan SBY, tapi revolusi itu harus dimulai dari penghancuran sistem masyarakat kita yang sekarang lewat revolusi budaya.
ANTON DH NUGRAHANTO
Button Theme